Layar Gawai di Tangan Siswa: Catatan Modernisasi Pendidikan dari MIN 3 Asahan
Pulau Rakyat (Humas) – Suasana ruang kelas sementara Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 3 Asahan di awal pekan pertama Juni 2026 terasa berbed...
Loading...
Pulau Rakyat (Humas) – Suasana ruang
kelas sementara Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 3 Asahan di awal pekan pertama
Juni 2026 terasa berbeda. Tidak ada lagi riuh gemerisik kertas ujian atau bunyi
gesekan pensil 2B di atas lembar jawaban. Sebagai gantinya, puluhan pasang mata
siswa kelas 3, 4, dan 5 tampak fokus menatap layar perangkat digital yang telah
disiapkan untuk mengikuti Sumatif Akhir Semester (SAS) Genap Tahun Pelajaran
2025/2026 berbasis Computer Based Test (CBT), Senin (02/06).
Perubahan suasana tersebut menjadi
penanda dimulainya babak baru dalam pelaksanaan evaluasi pembelajaran di MIN 3
Asahan. Untuk pertama kalinya, ujian semester dilaksanakan secara digital
dengan memanfaatkan teknologi sebagai sarana utama dalam proses penilaian
peserta didik. Langkah ini bukan sekadar mengikuti tren perkembangan zaman,
melainkan bagian dari strategi besar madrasah dalam membangun sistem pendidikan
yang lebih modern, efisien, dan adaptif terhadap kemajuan teknologi informasi.
Pelaksanaan CBT di MIN 3 Asahan juga
menjadi bukti nyata keseriusan madrasah dalam mendukung program Asta Protas
(Asta Cita) Kementerian Agama Republik Indonesia. Program tersebut menempatkan
transformasi digital sebagai salah satu agenda prioritas dalam meningkatkan
kualitas tata kelola lembaga pendidikan keagamaan. Melalui digitalisasi sistem
ujian, berbagai proses administrasi yang sebelumnya membutuhkan waktu dan
tenaga lebih banyak kini dapat disederhanakan. Penggunaan kertas, proses
penggandaan soal, hingga koreksi manual perlahan mulai ditinggalkan dan
digantikan dengan sistem yang lebih praktis dan terukur.
Transformasi ini diyakini akan
memberikan dampak positif yang luas, tidak hanya bagi siswa, tetapi juga bagi
guru dan manajemen madrasah. Seluruh proses penilaian menjadi lebih cepat,
terdokumentasi dengan baik, serta mudah dipantau dan dievaluasi.
Kepala MIN 3 Asahan, Ummiati
Nasution, S.Pd.I., M.Pd., mengungkapkan bahwa transformasi digital di
lingkungan madrasah merupakan kebutuhan yang tidak dapat ditunda lagi.
Menurutnya, lembaga pendidikan harus mampu menyesuaikan diri dengan
perkembangan teknologi agar tetap relevan dengan kebutuhan generasi masa kini. Ummiati
menegaskan bahwa penerapan CBT bukan sekadar mengganti media ujian dari kertas
ke layar digital. Lebih dari itu, langkah tersebut merupakan bagian dari upaya
membangun budaya kerja yang modern dan berbasis data.
"Kami tidak ingin sekadar
mengganti kertas dengan layar. Ini adalah bagian dari komitmen kami mendukung
program Asta Protas Kemenag RI. Dengan digitalisasi tata kelola ujian, proses
penilaian menjadi lebih transparan, akurat, dan efektif. Kami bisa
meminimalisir kesalahan manual (human error) sehingga hasil yang diperoleh
siswa benar-benar objektif," ujar Ummiati.
Menurut Ummiati, hasil ujian yang
diperoleh siswa nantinya akan menjadi sumber informasi penting bagi madrasah
dalam melihat tingkat keberhasilan proses pembelajaran selama satu semester
terakhir. Oleh karena itu, akurasi data menjadi aspek yang sangat diperhatikan.
Ia menjelaskan bahwa SAS Genap bukan sekadar rutinitas akademik menjelang
pembagian rapor. Ujian tersebut merupakan instrumen penting untuk mengukur daya
serap peserta didik terhadap materi yang telah disampaikan oleh guru selama
proses pembelajaran berlangsung.
Dikesempatan itu juga, Ummiati
menambahkan bahwa melalui sistem CBT, data hasil ujian dapat langsung terkumpul
dan diolah secara digital. Proses ini memungkinkan guru memperoleh gambaran
yang lebih cepat mengenai capaian belajar siswa tanpa harus menunggu proses
koreksi manual yang memakan waktu. Kecepatan pengolahan data tersebut menjadi
salah satu keuntungan utama dari digitalisasi tata kelola pendidikan. Informasi
yang diperoleh dapat segera dianalisis untuk menentukan langkah-langkah tindak
lanjut yang diperlukan.
"Perubahan dari sistem
konvensional menuju sistem digital tentu tidak berlangsung tanpa tantangan.
Sebagian siswa kami sebelumnya belum terbiasa mengikuti ujian menggunakan
perangkat digital secara mandiri. Karena itu, madrasah perlu memberikan
pendampingan dan pembiasaan secara bertahap agar mereka merasa nyaman dan
percaya diri saat menghadapi ujian berbasis CBT. Kami memahami bahwa proses
adaptasi membutuhkan waktu, terutama bagi siswa di jenjang ibtidaiyah yang
masih berada pada tahap pengenalan teknologi digital secara lebih
intensif," ungkapya.
Menyadari hal tersebut, pihak
madrasah mengambil langkah antisipatif dengan mengadakan simulasi CBT secara
intensif beberapa hari sebelum pelaksanaan ujian dimulai. Simulasi dilakukan
agar siswa mengenal alur pelaksanaan ujian sekaligus membangun rasa percaya
diri dalam menggunakan perangkat digital. Pendekatan tersebut terbukti efektif.
Kecanggungan yang sempat muncul pada tahap awal perlahan berubah menjadi rasa
antusias. Para siswa tampak bersemangat mencoba sistem baru yang bagi sebagian
besar dari mereka menjadi pengalaman pertama.
Pada hari pertama pelaksanaan ujian,
suasana kelas berlangsung tertib dan kondusif. Para peserta ujian terlihat
tenang saat login ke sistem, membaca soal, hingga mengerjakan setiap pertanyaan
yang tersedia pada layar perangkat masing-masing. Guru-guru yang bertugas sebagai
pengawas juga turut mendampingi siswa dengan penuh perhatian. Kehadiran mereka
memberikan rasa aman sekaligus memastikan seluruh proses ujian berjalan sesuai
prosedur yang telah ditetapkan.
Menurut salah seorang guru kelas
V-B, Jefriadi Samosir, keberhasilan pelaksanaan CBT ini juga tidak terlepas
dari kesiapan infrastruktur yang telah dipersiapkan secara matang oleh pihak
madrasah. Mulai dari perangkat pendukung, jaringan internet, hingga sistem
aplikasi ujian dipastikan berfungsi optimal sebelum ujian dimulai. Ia menambahkan,
bahwa dengan pelaksanaan SAS Genap berbasis CBT ini, MIN 3 Asahan semakin
menegaskan komitmennya sebagai madrasah yang siap bertransformasi menuju
ekosistem pendidikan digital. Langkah tersebut diharapkan menjadi fondasi kuat
dalam melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki
kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi di masa depan. (Wh)
Pulau Rakyat (Humas) – Suasana ruang kelas sementara Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 3 Asahan di awal pekan pertama Juni 2026 terasa berbed...
Pulau Rakyat (Humas) – Kepala Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 3 Asahan, Ummiati Nasution, S.Pd.I., M.Pd., bersama seluruh pejabat struktura...
Pulau Rakyat (Humas) – Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 3 Asahan sukses melaksanakan simulasi ujian Computer-Based Test (CBT) online bagi se...