Loading...

  • Senin, 18 Mei 2026

Pimpin Ibadat BKSN, Penyuluh Agama Katolik: Membarui Diri Relasi dengan Sesama

Suasana Ibadat BKSN

Asahan (Humas BimKat). Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kab. Asahan, Alb Irawan Dwiatmaja melaksanakan ibadat bersama untuk pertemuan pendalaman Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2025 bersama kelompok remaja Katolik di UPTD SMP Negeri 2 Pulau Rakyat, Desa Padang Mahondang pada Jumat, 19 September 2025. Wawan melaksanakan ibadat BKSN yang kedua dengan tema Umat Katolik yang Bermisi Membarui Diri Relasi dengan Sesama dari Za. 7:1-14. Wawan ingin para remaja dapat semakin memahami makna membarui relasi dengan sesama, menyadari bahwa ibadah yang sejati kepada Allah senantiasa disertai dengan tindakan belas kasih bagi sesama, dan terdorong bermisi lewat tindakan bela rasa dan rela berbagi demi kesejahteraan bersama.

 

Pada pertemuan kedua, para remaja diajak merenungkan nubuat Nabi Zakharia yang berkisah tentang setelah Bait Allah diruntuhkan, orang Yahudi berpuasa untuk mengungkapkan kesedihan mereka. Sekarang mereka sedang membangun kembali bangunan suci itu, yang tidak lama lagi akan selesai. Mereka pun bertanya, “Apakah mereka masih perlu berpuasa untuk meratapi keruntuhan Bait Allah?” Ungkapan iman seperti apa yang harus mereka kerjakan sesuai kehendak Allah?

 

“Para saudara yang terkasih. Pada pertemuan kedua ini, Tuhan menegur mereka karena puasa yang mereka lakukan tidak lahir dari hati yang tulus, melainkan untuk kepentingan diri sendiri. Mereka mengabaikan firman Tuhan yang telah disampaikan melalui para nabi terdahulu, yaitu hidup adil, menunjukkan kasih sayang, serta tidak menindas kaum rentan seperti janda, anak yatim, pendatang, dan orang miskin. Karena hati mereka keras dan tidak mau mendengarkan suara Tuhan, akibatnya mereka dihukum dengan cara dibuang ke bangsa-bangsa asing dan negeri mereka menjadi sunyi sepi”, jelas Wawan.

 

Melalui teguran tersebut, kita diajak menyadari bahwa hidup beriman bukan hanya soal hubungan pribadi dengan Tuhan, tetapi juga harus tampak nyata dalam hubungan dengan sesama. Tuhan tidak menghendaki ibadah yang hanya bersifat ritual, tetapi yang membuahkan keadilan dan kasih. Iman sejati mesti melahirkan kepedulian sosial. Ketaatan kepada Tuhan harus terwujud dalam kepekaan terhadap penderitaan orang lain.


Dalam ibadat BKSN ini Wawan menekankan, “Maka, sebagai orang Katolik, kita dipanggil untuk membarui relasi dengan sesama sebagai buah pertobatan dan peribadatan yang benar di hadapan Allah, yaitu relasi yang dibangun atas dasar cinta, kepedulian, dan keadilan sosial.” (AW)

Tentang Penulis
Penulis di Kemenag Asahan Sejak 15 May 2024
Lihat Semua Post