Loading...

  • Selasa, 21 April 2026

MIN 3 Asahan Gelar Upacara Hari Santri, Pembina: Santri Aktor Peradaban

Pembina Upacara sedang membacakan teks pidato Menteri Agama RI (foto: Diski Pranadi)

Pulau Rakyat (Humas) - Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 3 Asahan menggelar upacara Peringatan Hari Santri di lapangan utama madrasah. Kegiatan yang berlangsung tertip dan khidmat ini dimulai pukul 08.00 tepat dan dilaksanakan untuk menghargai sejarah perjuangan ulama yang tercermin dalam Resolusi Jihad, sekaligus menjadi panggung penting untuk penyampaian amanat Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, yang mengusung tema "Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Dunia." (22/10/2025)

Upacara kali ini menghadirkan pemandangan yang berbeda dan menarik, di mana seluruh peserta, dari siswa hingga dewan guru, kompak mengenakan pakaian putih bersih berpadu dengan sarung, sebuah simbol khas yang menegaskan identitas serta semangat kesederhanaan seorang santri.

Dalam kesempatan ini, Kepala MIN 3 Asahan mendelegasikan tanggung jawab sebagai pembina upacara kepada Wahyudi, S.Pd.I., seorang guru Al-Quran Hadis. Wahyudi berdiri di podium untuk menyampaikan amanat penting dari Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar.

Dalam amanat tertulis, Wahyudi, S.Pd.I., membacakan pesan duka cita dan belasungkawa yang mendalam dari seluruh keluarga besar Kementerian Agama. Belasungkawa ini ditujukan kepada musibah tragis yang belum lama ini menimpa Pondok Pesantren Al-Khoziny di Sidoarjo, Jawa Timur.

Wahyudi menyampaikan, bahwa insiden yang merenggut nyawa 67 santri tersebut merupakan duka bagi seluruh umat Islam dan bangsa Indonesia. Dalam kesempatan itu, ia mengajak seluruh hadirin untuk mendoakan agar para korban syahid di sisi Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan kesabaran.

“Kita semua berdiri di sini, tidak hanya untuk merayakan, tetapi juga untuk merenungkan. Kami menyampaikan duka cita yang paling mendalam bagi keluarga besar Pondok Pesantren Al-Khoziny.” Ucap Yudi.

Selanjutnya, Pembina upacara mengulas poin penting mengenai latar belakang historis ditetapkannya tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Ia menjelaskan bahwa penetapan ini berawal dari sebuah momentum krusial dalam sejarah kemerdekaan bangsa.

Wahyudi menyebutkan bahwa sejarah heroik ini bermula dari tercetusnya istilah Resolusi Jihad, sebuah seruan yang dikeluarkan oleh ulama besar KH. Hasyim Asy'ari pada tanggal 22 Oktober 1945. Seruan ini membakar semangat juang para santri dan ulama untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

“Penetapan 22 Oktober sebagai Hari Santri adalah pengakuan negara atas peran tak terpisahkan dari ulama dan santri dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Pengorbanan mereka adalah pilar kemerdekaan yang kita nikmati saat ini, dan ini harus selalu kita tanamkan dalam memori kolektif.” Terangnya.

Dikesempatan yang sama, Wahyudi kemudian menyoroti tema Hari Santri tahun 2025. Tema yang diangkat tahun ini adalah “Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Dunia,” yang memiliki makna dan implikasi yang sangat mendalam bagi peran santri masa kini.

“tema ini secara jelas mencerminkan tekad dan peran ganda santri, yaitu sebagai penjaga kedaulatan dan kemerdekaan bangsa, sekaligus sebagai penggerak utama dalam memajukan peradaban global. Dalam konteks ini, santri diminta untuk tidak hanya berdiam diri. Duduk manis sebagai penonton pasif, melainkan harus berani hadir sebagai pelaku sejarah yang aktif dalam membawa ajaran Islam Rahmatan Lil Alamin untuk membangun peradaban dunia yang berlandaskan kedamaian, keadilan, dan menjunjung tinggi nilai-nilai berperadaban” jelasnya membacakan.

Menjelang akhir amanatnya, Pembina upacara menutup pidato dengan menggarisbawahi pentingnya menanamkan ilmu dan akhlak mulia sebagai bekal utama menyongsong masa depan yang cerah. Ia mengutip sebuah kalimat penutup yang filosofis yang menjadi inti dari pesan moral bagi seluruh siswa MIN 3 Asahan.

“Barang siapa yang menanam ilmu maka ia akan menanam masa depan. Maka, tanamlah ilmu dengan sungguh-sungguh dan didasari dengan akhlak yang mulia. Ingatlah, ilmu tanpa adab laksana pohon tanpa buah. Hormati guru dan seluruh pengajar kalian, karena mereka adalah pewaris para nabi.” Tutupnya.

Sementara Kepala MIN 3 Asahan, Tohiruddin Hasibuan, S.Pd., M.M., tidak dapat hadir secara fisik karena tengah menjalankan tugas kedinasan di tempat lain. Melalui sambungan telepon, Tohiruddin Hasibuan menyampaikan permohonan maaf atas ketidakhadirannya, karena pada saat yang sama ia sedang mengikuti apel bersama Hari Santri dengan para pimpinan madrasah se-kabupaten. Ia juga tak lupa menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat.

"Saya berterima kasih tak terhingga kepada seluruh guru, staf tata usaha, dan seluruh siswa. Kalian telah melaksanakan upacara Hari Santri di madrasah dengan penuh semangat dan disiplin. Kalian telah menunjukkan esensi sejati dari seorang santri yang berbakti," tegas Tohiruddin Hasibuan, mengapresiasi kerja keras seluruh komponen madrasah.

Disaat yang sama, Tohiruddin Hasibuan juga menyampaikan permohonan maafnya karena tidak dapat membersamai secara langsung dalam upacara Hari Santri itu, sebab ia menjelaskan bahwa tugasnya untuk mengikuti apel bersama pimpinan madrasah merupakan prioritas yang tidak bisa ditinggalkan. (Wh)

Tentang Penulis
Penulis di Kemenag Asahan Sejak 21 October 2024
Lihat Semua Post