Loading...

  • Selasa, 21 April 2026

MIN 3 Asahan Gelar Pawai, Kamad: Representasi Visual Bhinneka Tunggal Ika di Hari Pahlawan

Peserta pawai bersiap kembali menuju ke madrasah (foto: Waroh)

Pulau Rakyat (Humas) — Dalam rangka memeriahkan peringatan Hari Pahlawan, Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 3 Asahan menggelar pawai budaya dan seragam pahlawan sepanjang 2 kilometer di jalan protokol Desa Pulau Rakyat Tua. Puluhan siswa berpakaian adat nusantara, didampingi teman-teman mereka yang mengenakan seragam tentara, polisi, dan seragam sekolah, berjalan dengan tertip dan penuh semangat. Kegiatan yang dilaksanakan usai upacara ini diikuti seluruh siswa kelas I hingga VI dan seluruh guru. (10/11/2025)

Pawai dimulai pukul 09.00 WIB dari halaman MIN 3 Asahan, bergerak menuju Masjid Al-Hidayah, dengan rute yang telah disiapkan oleh dewan guru. Suasana semarak tercipta dengan iringan yel-yel terlantun setiap hentakan kaki siswa. Terlihat para siswa mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah seperti Baju Kurung Melayu, Ulos Batak, Kebaya Jawa, dan Songket, terlihat antusias memamerkan kekayaan budaya Indonesia.

Saat dimintai keterangan, Kepala MIN 3 Asahan, Ummiati Nasution, menyampaikan bahwa kegiatan ini sengaja dirancang untuk menanamkan nilai-nilai nasionalisme sejak dini. Ia menjelaskan melalui pawai ini, para siswa belajar tentang identitas daerah, rasa bangga terhadap budaya sendiri, serta pentingnya toleransi dalam keberagaman.

“Siswa-siswi kami diajak untuk tidak hanya mengenakan pakaian adat, tetapi memahami makna di baliknya, sehingga dengan harapan kegiatan ini dapat menanamkan nilai-nilai nasionalisme sejak dini kepada anak-anak” ujarnya.

Diwaktu yang sama, Ummiati Nasution, menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi bagian dari kurikulum karakter berbasis nilai-nilai kebangsaan. Ia menyakini bahwa pawai ini dapat memberikan edukasi kepada para siswa untuk dapat mengenal dan menghargai budaya sendiri.

“Setiap pakaian adat memiliki asal-usul, nama, dan makna filosofis dari suku atau daerah tertentu. Melalui pawai ini, siswa tidak hanya memakai baju, tapi memahami identitas daerah yang menjadi bagian dari kebangsaan Indonesia” terang Ummiati.

Pada kesempatan itu, Ummiati menyoroti tentang toleransi dan persatuan, Ia menyatakan bahwa ketika siswa melihat teman-temannya mengenakan pakaian adat dari daerah lain, mereka belajar menerima perbedaan dan menghormati perbedaan budaya, suku, dan latar belakang, yang merupakan pondasi penting dalam masyarakat majemuk.

"Ketika seragam tentara, polisi, dan pakaian adat berjalan berdampingan, itu adalah gambaran nyata bahwa kita berbeda-beda, tetapi tetap satu, hal ini sangat penting di tengah tantangan perpecahan yang makin mengancam generasi muda saat ini," tutup Ummiati mengakhiri pernyataannya. (Wh)

Tentang Penulis
Penulis di Kemenag Asahan Sejak 21 October 2024
Lihat Semua Post