Loading...

  • Selasa, 21 April 2026

Guru MIN 3 Asahan Ciptakan Metode Pembelajaran: Ubah Matematika yang Menakutkan Jadi Menyenangkan

tampak siswa sedang sibuk menyelesaikan teka teki yang terdapat pada kertas (foto: Yudi)

Pulau Rakyat (Humas) – Jefriadi Samosir, S.Pd.SD., seorang guru kelas V B yang dikenal kreatif di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 3 Asahan, berhasil menciptakan sebuah inovasi dalam dunia pendidikan. Ia menyulap sesi pelajaran Matematika, pada materi Luas Lingkaran, menjadi sebuah "Metode Pembelajaran Petualangan" yang seru, sekaligus memecah kejenuhan belajar di kelas. Metode ini dikemas dalam nuansa game di mana siswa disuruh berpetualang mencari soal yang diletakkan di berbagai lokasi, dengan setiap soal berisi petunjuk untuk menemukan soal berikutnya, hingga misi tuntas. Kegiatan pembelajaran ini berlangsung di lapangan depan dan belakang madrasah. (22/11/2025)

Metode yang diciptakan oleh Jefriadi ini ia namakan "Metode Pembelajaran Petualangan". Sesuai namanya, metode ini membawa siswa pada sebuah misi atau ekspedisi seru untuk menaklukkan materi pelajaran. Inisiatif ini khususnya diterapkan pada materi yang sering dianggap sulit dan monoton, yaitu menghitung Luas Lingkaran. Konsep utama dari Metode Pembelajaran Petualangan adalah mengemas proses belajar menjadi sebuah permainan atau game yang menantang. Alih-alih duduk diam mendengarkan ceramah, para siswa ditugaskan untuk bergerak dan berkolaborasi dalam menemukan solusi. Jefriadi merancang sebuah rangkaian tantangan soal yang harus mereka pecahkan secara berurutan.

Pelaksanaannya sangat menarik antusiasme siswa. Jefriadi menyiapkan sejumlah kertas yang berisikan soal-soal hitungan Luas Lingkaran. Kertas-kertas tersebut sengaja diletakkan di berbagai lokasi yang berbeda-beda di lingkungan madrasah, setiap kertas tidak hanya berisi soal Matematika, namun juga dilengkapi dengan petunjuk atau teka-teki untuk menemukan lokasi soal selanjutnya. Pencarian soal ini akan terus berlanjut hingga mereka berhasil menemukan soal di lokasi terakhir, menandakan misi telah selesai.

Saat ditanyai mengenai pelaksanaan metode ini, Jefriadi Samosir menjelaskan bahwa ia merasakan adanya tantangan sekaligus kepuasan dalam penerapannya. Ia mengungkapkan bahwa ia melihat banyak siswa kelas V masih kesulitan memahami konsep Luas Lingkaran jika hanya diajarkan menggunakan rumus di papan tulis. Oleh karena itu, ia memiliki niat untuk mengubah proses belajar menjadi pengalaman yang tidak terlupakan.

"Saya amati, banyak anak-anak kelas lima ini terbelenggu dengan konsep Luas Lingkaran hanya dari deretan rumus di papan tulis, maka dari itu, saya bertekad mentransformasi proses belajar ini menjadi sebuah pengalaman yang benar-benar membekas dalam ingatan mereka." Ujarnya

Lebih lanjut, Jefriadi menyatakan bahwa pelaksanaan metode ini memerlukan persiapan yang lebih matang, terutama dalam menyusun rangkaian soal dan petunjuk yang logis. Meskipun demikian, ia menegaskan bahwa hasil yang didapatkan sangat sepadan dengan usaha yang dikeluarkan, karena  Jefri wajib memastikan setiap petunjuk yang diberikan harus mengarah pada penguatan pemahaman konsep, bukan hanya sekadar kegiatan mencari benda atau bermain.

"Menerapkan metode ini jelas memerlukan perencanaan yang matang, fokus utama saya adalah menyusun urutan soal dan petunjuk yang harus rasional dan terstruktur agar alur petualangan tidak terputus. Namun, hasil yang kami raih jauh lebih berharga dari apa yang telah kami keluarkan sebelumnya," tegasnya.

"Saya pastikan bahwa setiap petunjuk yang ada di lapangan berfungsi sebagai jembatan menuju pemahaman yang lebih kuat tentang konsep dasar, bukan hanya sekadar aktivitas fisik mencari kertas atau main-main tanpa tujuan akademik." Tambah Jefriadi menerangkan.

Sebelum menutup pernyataannya, Jefriadi menjelaskan sebab metode ini digunakan. Ia menyatakan bahwa alasan utama metode konvensional tidak lagi digunakan adalah karena metode-metode lama seringkali tidak menjangkau seluruh gaya belajar siswa, sehingga melalui metode game tersebut, siswa dengan gaya belajar kinestetik dan visual dapat lebih mudah menyerap materi. Jefriadi kemudian menyebutkan manfaat yang paling terlihat dari penerapan inovasi ini, yaitu peningkatan keterlibatan aktif siswa, hal ini terlihat siswa yang semula pasif kini bersemangat untuk menyelesaikan soal-soal, dan mereka sudah tidak lagi takut pada rumus matematika.

Inovasi luar biasa yang dilakukan oleh Jefriadi Samosir ini tidak butuh waktu lama untuk terdengar hingga ke telinga Kepala MIN 3 Asahan, Ummiati Nasution, S.Pd.I., M.Pd. Sosok yang dikenal sangat memperhatikan perkembangan mutu pendidikan di madrasahnya, di sela-sela kesibukannya, mengungkapkan rasa bangga dan apresiasi yang tinggi atas kreativitas yang telah ditunjukkan oleh gurunya tersebut.

"Kami sangat bangga dengan Bapak Jefriadi. Inovasi ini adalah sinyal kuat bahwa guru-guru di MIN 3 Asahan tidak pernah berhenti belajar dan berkreasi demi kemajuan siswa, ini menunjukkan bahwa dengan sedikit kreativitas, materi yang dianggap sulit bisa diubah menjadi hal yang menyenangkan," ucapnya dengan penuh bangga.

Harapan Ummiati Nasution ke depan sangat besar. Ia berharap inovasi semacam ini akan terus bermunculan dan menjadi budaya di madrasah tersebut. Ummiati juga menegaskan bahwa kunci kemajuan pendidikan terletak pada kemauan para pendidik untuk keluar dari zona nyaman dan mencoba metode-metode baru yang relevan dengan kebutuhan siswa, sehingga mutu pendidikan di MIN 3 Asahan semakin meningkat dan dapat mencetak generasi penerus bangsa yang cerdas, kreatif, dan berakhlak mulia. (Wh)

Tentang Penulis
Penulis di Kemenag Asahan Sejak 21 October 2024
Lihat Semua Post