Jelang TKA dan Ujian Madrasah, MIN 3 Asahan Mantapkan Persiapan Lewat Rakor Bersama Wali Murid
Pulau Rakyat (Humas) – Kepala Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 3 Asahan, Ummiati Nasution, S.Pd.I., memimpin langsung jalannya Rapat Koordi...
Loading...
Pulau
Rakyat (Humas) – Jefriadi Samosir, S.Pd.SD., seorang guru kelas V B yang
dikenal kreatif di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 3 Asahan, berhasil
menciptakan sebuah inovasi dalam dunia pendidikan. Ia menyulap sesi pelajaran
Matematika, pada materi Luas Lingkaran, menjadi sebuah "Metode
Pembelajaran Petualangan" yang seru, sekaligus memecah kejenuhan belajar
di kelas. Metode ini dikemas dalam nuansa game di mana siswa disuruh
berpetualang mencari soal yang diletakkan di berbagai lokasi, dengan setiap
soal berisi petunjuk untuk menemukan soal berikutnya, hingga misi tuntas.
Kegiatan pembelajaran ini berlangsung di lapangan depan dan belakang madrasah.
(22/11/2025)
Metode
yang diciptakan oleh Jefriadi ini ia namakan "Metode Pembelajaran
Petualangan". Sesuai namanya, metode ini membawa siswa pada sebuah misi
atau ekspedisi seru untuk menaklukkan materi pelajaran. Inisiatif ini khususnya
diterapkan pada materi yang sering dianggap sulit dan monoton, yaitu menghitung
Luas Lingkaran. Konsep utama dari Metode Pembelajaran Petualangan adalah
mengemas proses belajar menjadi sebuah permainan atau game yang
menantang. Alih-alih duduk diam mendengarkan ceramah, para siswa ditugaskan
untuk bergerak dan berkolaborasi dalam menemukan solusi. Jefriadi merancang
sebuah rangkaian tantangan soal yang harus mereka pecahkan secara berurutan.
Pelaksanaannya
sangat menarik antusiasme siswa. Jefriadi menyiapkan sejumlah kertas yang
berisikan soal-soal hitungan Luas Lingkaran. Kertas-kertas tersebut sengaja
diletakkan di berbagai lokasi yang berbeda-beda di lingkungan madrasah, setiap
kertas tidak hanya berisi soal Matematika, namun juga dilengkapi dengan
petunjuk atau teka-teki untuk menemukan lokasi soal selanjutnya. Pencarian soal
ini akan terus berlanjut hingga mereka berhasil menemukan soal di lokasi
terakhir, menandakan misi telah selesai.
Saat
ditanyai mengenai pelaksanaan metode ini, Jefriadi Samosir menjelaskan bahwa ia
merasakan adanya tantangan sekaligus kepuasan dalam penerapannya. Ia
mengungkapkan bahwa ia melihat banyak siswa kelas V masih kesulitan memahami
konsep Luas Lingkaran jika hanya diajarkan menggunakan rumus di papan tulis.
Oleh karena itu, ia memiliki niat untuk mengubah proses belajar menjadi
pengalaman yang tidak terlupakan.
"Saya
amati, banyak anak-anak kelas lima ini terbelenggu dengan konsep Luas Lingkaran
hanya dari deretan rumus di papan tulis, maka dari itu, saya bertekad
mentransformasi proses belajar ini menjadi sebuah pengalaman yang benar-benar
membekas dalam ingatan mereka." Ujarnya
Lebih
lanjut, Jefriadi menyatakan bahwa pelaksanaan metode ini memerlukan persiapan
yang lebih matang, terutama dalam menyusun rangkaian soal dan petunjuk yang
logis. Meskipun demikian, ia menegaskan bahwa hasil yang didapatkan sangat
sepadan dengan usaha yang dikeluarkan, karena
Jefri wajib memastikan setiap petunjuk yang diberikan harus mengarah
pada penguatan pemahaman konsep, bukan hanya sekadar kegiatan mencari benda
atau bermain.
"Menerapkan
metode ini jelas memerlukan perencanaan yang matang, fokus utama saya adalah
menyusun urutan soal dan petunjuk yang harus rasional dan terstruktur agar alur
petualangan tidak terputus. Namun, hasil yang kami raih jauh lebih berharga
dari apa yang telah kami keluarkan sebelumnya," tegasnya.
"Saya
pastikan bahwa setiap petunjuk yang ada di lapangan berfungsi sebagai jembatan
menuju pemahaman yang lebih kuat tentang konsep dasar, bukan hanya sekadar
aktivitas fisik mencari kertas atau main-main tanpa tujuan akademik." Tambah
Jefriadi menerangkan.
Sebelum
menutup pernyataannya, Jefriadi menjelaskan sebab metode ini digunakan. Ia
menyatakan bahwa alasan utama metode konvensional tidak lagi digunakan adalah
karena metode-metode lama seringkali tidak menjangkau seluruh gaya belajar
siswa, sehingga melalui metode game tersebut, siswa dengan gaya belajar
kinestetik dan visual dapat lebih mudah menyerap materi. Jefriadi kemudian
menyebutkan manfaat yang paling terlihat dari penerapan inovasi ini, yaitu
peningkatan keterlibatan aktif siswa, hal ini terlihat siswa yang semula pasif
kini bersemangat untuk menyelesaikan soal-soal, dan mereka sudah tidak lagi
takut pada rumus matematika.
Inovasi
luar biasa yang dilakukan oleh Jefriadi Samosir ini tidak butuh waktu lama
untuk terdengar hingga ke telinga Kepala MIN 3 Asahan, Ummiati Nasution, S.Pd.I.,
M.Pd. Sosok yang dikenal sangat memperhatikan perkembangan mutu pendidikan di
madrasahnya, di sela-sela kesibukannya, mengungkapkan rasa bangga dan apresiasi
yang tinggi atas kreativitas yang telah ditunjukkan oleh gurunya tersebut.
"Kami
sangat bangga dengan Bapak Jefriadi. Inovasi ini adalah sinyal kuat bahwa
guru-guru di MIN 3 Asahan tidak pernah berhenti belajar dan berkreasi demi
kemajuan siswa, ini menunjukkan bahwa dengan sedikit kreativitas, materi yang
dianggap sulit bisa diubah menjadi hal yang menyenangkan," ucapnya dengan
penuh bangga.
Harapan
Ummiati Nasution ke depan sangat besar. Ia berharap inovasi semacam ini akan
terus bermunculan dan menjadi budaya di madrasah tersebut. Ummiati juga
menegaskan bahwa kunci kemajuan pendidikan terletak pada kemauan para pendidik
untuk keluar dari zona nyaman dan mencoba metode-metode baru yang relevan
dengan kebutuhan siswa, sehingga mutu pendidikan di MIN 3 Asahan semakin
meningkat dan dapat mencetak generasi penerus bangsa yang cerdas, kreatif, dan
berakhlak mulia. (Wh)
Pulau Rakyat (Humas) – Kepala Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 3 Asahan, Ummiati Nasution, S.Pd.I., memimpin langsung jalannya Rapat Koordi...
Pulau Rakyat (Humas) – Kepala Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 3 Asahan, Ummiati Nasution, menghadiri kegiatan supervisi manajerial yang dip...
Pulau Rakyat (Humas) – Mengawali hari kerja pertama setelah libur panjang Hari Raya Idul Fitri 1447 H, Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 3 A...