Loading...

  • Rabu, 22 April 2026

Belajar Sudut Jadi Karya Seni, Siswa MIN 3 Asahan Tunjukkan Kreativitas Melalui Metode PjBL

Siswa sedang memamerkan hasil karya mereka didepan kelas

Pulau Rakyat (Humas) - Salah satu guru kelas 5 Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 3 Asahan, Jefriadi Samosir, S.Pd.SD., melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan metode Project Based Learning (PjBL) pada materi sudut dalam mata pelajaran Matematika, pada hari Kamis (24/10/2025) di ruang kelas 5-A. Kegiatan ini dilaksanakan dengan tujuan untuk menciptakan pembelajaran yang lebih bermakna, kreatif, dan melatih keterampilan berpikir kritis siswa dalam memahami konsep sudut melalui proyek menggambar karya berbasis bentuk-bentuk sudut.

Pada kegiatan tersebut, siswa kelas 5-A terlihat sangat antusias mengikuti pembelajaran. Mereka bekerja dalam kelompok kecil untuk menghasilkan karya gambar yang menampilkan berbagai jenis sudut, seperti sudut lancip, tumpul, dan siku-siku, kemudian mewarnainya dengan cat sesuai kreasi masing-masing.

Saat dimintai keterangan, Jefriadi Samosir, menyampaikan bahwa penerapan metode PjBL bukan sekadar pembelajaran berbasis proyek biasa, tetapi merupakan upaya untuk membangun pengalaman belajar nyata bagi siswa. Ia ingin agar siswa belajar tidak hanya dengan menghafal rumus atau definisi semata, tetapi juga memperoleh seperangkat kemampuan dan keterampilan yang relevan dengan tuntutan zaman.

“Saya menggunakan metode Project Based Learning agar siswa memperoleh kemampuan dan keterampilan baru dalam pembelajaran. Saya ingin mereka tidak hanya memahami konsep sudut secara teori, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan nyata melalui karya yang mereka buat sendiri. Dengan cara ini, pembelajaran menjadi lebih hidup, bermakna, dan berkesan di hati siswa.” Terang Jefri usai mengakhiri pembelajaran.

Selanjutnya, dalam pelaksanaan pembelajaran, Jefriadi menerapkan enam langkah utama metode PjBL. Langkah pertama adalah menentukan pertanyaan mendasar, di mana ia mengajak siswa untuk memahami pentingnya mengenal sudut dalam kehidupan sehari-hari, seperti pada bentuk atap rumah atau rambu lalu lintas.

Langkah kedua yang dilakukan adalah merancang perencanaan proyek. Pada tahap ini, Jefriadi bersama siswa menyusun rencana kegiatan, menentukan bahan yang diperlukan seperti kertas karton, penggaris, pensil, dan cat air. Siswa juga diminta untuk membuat rancangan gambar awal sebagai panduan sebelum mulai menggambar.

Langkah ketiga adalah menyusun jadwal pelaksanaan proyek. Jefriadi membagi waktu menjadi dua sesi: sesi pertama untuk menggambar pola sudut dan sesi kedua untuk mewarnai serta memberikan penjelasan tentang jenis sudut yang ada pada karya mereka.

Tahap keempat adalah memonitor kegiatan siswa selama proyek berlangsung. Ia berkeliling kelas untuk memastikan setiap kelompok bekerja dengan baik, memberikan bimbingan bagi siswa yang mengalami kesulitan dalam mengidentifikasi jenis sudut, dan memberikan dorongan semangat agar mereka menyelesaikan proyek tepat waktu.

Langkah kelima yaitu menilai hasil proyek. Dalam tahap ini, Jefriadi menilai karya siswa berdasarkan kreativitas, ketepatan dalam menggambar sudut, dan kemampuan mereka menjelaskan hasil karya di depan kelas. Penilaian dilakukan secara adil dan disertai umpan balik positif untuk memotivasi siswa.

Terakhir, pada langkah keenam, Jefriadi melakukan refleksi bersama siswa. Ia mengajak siswa berdiskusi mengenai kesulitan yang dihadapi dan apa yang mereka pelajari dari proyek tersebut. Kegiatan ini membantu siswa menyadari bahwa pembelajaran bukan hanya tentang hasil, tetapi juga tentang proses belajar yang mereka jalani.

Meski semua itu berjalan dengan lancar, Jefriadi tidak menampik bahwa ada beberapa kendala yang ia hadapi dalam penerapan metode PjBL. Salah satunya adalah keterbatasan waktu karena kegiatan proyek membutuhkan durasi yang lebih panjang dibandingkan metode konvensional.

"Meski secara keseluruhan berjalan lancar dan siswa menunjukkan antusiasme tinggi, saya tidak memungkiri bahwa ada beberapa kendala serius yang saya hadapi selama penerapan PjBL," ujar Jefriadi Samosir.

"Kendala utama adalah keterbatasan waktu. Kegiatan proyek ini memang membutuhkan durasi yang jauh lebih panjang dari metode konvensional, menuntut saya harus pandai mengatur waktu. Selain itu, perbedaan kemampuan siswa juga menjadi tantangan. Tingkat kreativitas, ketelitian, dan kecepatan pemahaman konsep sudut tidak merata, sehingga saya harus memberikan perhatian dan bimbingan ekstra secara individual kepada siswa yang masih kesulitan agar tidak ada yang tertinggal dalam proses pengerjaan proyek." Jelas Jefri menambahkan.

Meskipun ada beberapa tantangan, Jefriadi merasa puas dengan hasil yang dicapai. Menurutnya, semangat siswa dalam menyelesaikan proyek merupakan indikator bahwa metode PjBL efektif dalam menumbuhkan minat belajar.

“Saya melihat anak-anak sangat antusias. Mereka bekerja sama, saling membantu, dan menunjukkan rasa tanggung jawab terhadap hasil karya mereka. Itu artinya, mereka bukan hanya belajar tentang sudut, tetapi juga tentang kerja sama, ketekunan, dan tanggung jawab. Saya sangat bangga melihat hasil kerja mereka yang penuh warna dan makna.” Tutupnya.

Kepala MIN 3 Asahan, Tohiruddin Hasibuan, S.Pd., M.M., memberikan tanggapan positif terhadap inovasi pembelajaran yang dilakukan oleh Jefriadi Samosir. Ia menilai langkah tersebut sebagai bentuk kreativitas guru dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di madrasah. Tohiruddin menganggap bahwa penerapan metode PjBL merupakan contoh nyata penerapan kurikulum berbasis proyek yang menekankan kolaborasi, kreativitas, dan pemecahan masalah.

“Saya sangat mengapresiasi langkah yang dilakukan oleh Pak Jefriadi dalam menggunakan metode Project Based Learning. Kegiatan seperti ini membuat siswa belajar dengan cara yang menyenangkan dan bermakna. Mereka tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mempraktikkan dan merasakannya langsung. Saya berharap guru-guru lain di MIN 3 Asahan dapat mencontoh langkah inovatif ini demi kemajuan pembelajaran di madrasah kita.” Pesan Tohiruddin dengan penuh harap.

Tohiruddin melanjutkan, bahwa kegiatan pembelajaran dengan metode PjBL yang dilaksanakan oleh Jefriadi Samosir menjadi salah satu contoh nyata bahwa inovasi dalam dunia pendidikan tidak harus selalu mahal atau rumit. Dengan ide sederhana, semangat, dan kreativitas, pembelajaran bisa menjadi lebih hidup, menarik, dan membekas dalam ingatan siswa. (Wh)

Tentang Penulis
Penulis di Kemenag Asahan Sejak 21 October 2024
Lihat Semua Post