Jelang TKA dan Ujian Madrasah, MIN 3 Asahan Mantapkan Persiapan Lewat Rakor Bersama Wali Murid
Pulau Rakyat (Humas) – Kepala Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 3 Asahan, Ummiati Nasution, S.Pd.I., memimpin langsung jalannya Rapat Koordi...
Loading...
Pulau Rakyat (Humas) - Salah
satu guru kelas 5 Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 3 Asahan, Jefriadi Samosir, S.Pd.SD., melaksanakan
kegiatan pembelajaran dengan menggunakan metode Project Based Learning (PjBL)
pada materi sudut dalam mata pelajaran Matematika, pada hari
Kamis (24/10/2025) di ruang kelas 5-A. Kegiatan ini
dilaksanakan dengan tujuan untuk menciptakan pembelajaran yang lebih bermakna, kreatif, dan melatih keterampilan berpikir
kritis siswa dalam memahami konsep sudut melalui proyek
menggambar karya berbasis bentuk-bentuk sudut.
Pada
kegiatan tersebut, siswa kelas 5-A terlihat sangat antusias mengikuti
pembelajaran. Mereka bekerja dalam kelompok kecil untuk menghasilkan karya
gambar yang menampilkan berbagai jenis sudut, seperti sudut lancip, tumpul, dan
siku-siku, kemudian mewarnainya dengan cat sesuai kreasi masing-masing.
Saat
dimintai keterangan, Jefriadi Samosir, menyampaikan bahwa penerapan
metode PjBL bukan sekadar pembelajaran berbasis proyek biasa, tetapi merupakan
upaya untuk membangun pengalaman belajar nyata bagi siswa. Ia ingin agar siswa
belajar tidak hanya dengan menghafal rumus atau definisi semata, tetapi
juga memperoleh seperangkat kemampuan dan keterampilan yang relevan dengan
tuntutan zaman.
“Saya
menggunakan metode Project Based Learning agar siswa memperoleh kemampuan dan
keterampilan baru dalam pembelajaran. Saya ingin mereka tidak hanya memahami
konsep sudut secara teori, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan
nyata melalui karya yang mereka buat sendiri. Dengan cara ini, pembelajaran
menjadi lebih hidup, bermakna, dan berkesan di hati siswa.” Terang Jefri usai mengakhiri pembelajaran.
Selanjutnya,
dalam pelaksanaan pembelajaran, Jefriadi menerapkan enam
langkah utama metode PjBL. Langkah pertama adalah menentukan pertanyaan mendasar, di mana ia
mengajak siswa untuk memahami pentingnya mengenal sudut dalam kehidupan
sehari-hari, seperti pada bentuk atap rumah atau rambu lalu lintas.
Langkah
kedua yang dilakukan adalah merancang
perencanaan proyek. Pada tahap ini, Jefriadi bersama siswa
menyusun rencana kegiatan, menentukan bahan yang diperlukan seperti kertas
karton, penggaris, pensil, dan cat air. Siswa juga diminta untuk membuat
rancangan gambar awal sebagai panduan sebelum mulai menggambar.
Langkah
ketiga adalah menyusun jadwal pelaksanaan proyek.
Jefriadi membagi waktu menjadi dua sesi: sesi pertama untuk menggambar pola
sudut dan sesi kedua untuk mewarnai serta memberikan penjelasan tentang jenis
sudut yang ada pada karya mereka.
Tahap
keempat adalah memonitor kegiatan siswa selama proyek
berlangsung. Ia berkeliling kelas untuk memastikan setiap
kelompok bekerja dengan baik, memberikan bimbingan bagi siswa yang mengalami
kesulitan dalam mengidentifikasi jenis sudut, dan memberikan dorongan semangat
agar mereka menyelesaikan proyek tepat waktu.
Langkah
kelima yaitu menilai hasil proyek.
Dalam tahap ini, Jefriadi menilai karya siswa berdasarkan kreativitas,
ketepatan dalam menggambar sudut, dan kemampuan mereka menjelaskan hasil karya
di depan kelas. Penilaian dilakukan secara adil dan disertai umpan balik
positif untuk memotivasi siswa.
Terakhir,
pada langkah keenam, Jefriadi melakukan
refleksi bersama siswa. Ia mengajak siswa berdiskusi mengenai
kesulitan yang dihadapi dan apa yang mereka pelajari dari proyek tersebut.
Kegiatan ini membantu siswa menyadari bahwa pembelajaran bukan hanya tentang
hasil, tetapi juga tentang proses belajar yang mereka jalani.
Meski
semua itu berjalan dengan lancar, Jefriadi tidak menampik bahwa ada beberapa kendala yang ia hadapi dalam penerapan
metode PjBL. Salah satunya adalah keterbatasan waktu karena kegiatan proyek
membutuhkan durasi yang lebih panjang dibandingkan metode konvensional.
"Meski
secara keseluruhan berjalan lancar dan siswa menunjukkan antusiasme tinggi,
saya tidak memungkiri bahwa ada beberapa kendala serius yang saya hadapi selama
penerapan PjBL," ujar Jefriadi Samosir.
"Kendala utama adalah
keterbatasan waktu. Kegiatan proyek ini memang membutuhkan durasi yang jauh
lebih panjang dari metode konvensional, menuntut saya harus pandai mengatur waktu.
Selain itu, perbedaan kemampuan siswa juga menjadi tantangan. Tingkat
kreativitas, ketelitian, dan kecepatan pemahaman konsep sudut tidak merata,
sehingga saya harus memberikan perhatian dan bimbingan ekstra secara individual
kepada siswa yang masih kesulitan agar tidak ada yang tertinggal dalam proses
pengerjaan proyek." Jelas Jefri menambahkan.
Meskipun
ada beberapa tantangan, Jefriadi merasa puas dengan hasil yang dicapai.
Menurutnya, semangat siswa dalam menyelesaikan proyek merupakan indikator bahwa
metode PjBL efektif dalam menumbuhkan minat belajar.
“Saya melihat anak-anak sangat antusias. Mereka bekerja
sama, saling membantu, dan menunjukkan rasa tanggung jawab terhadap hasil karya
mereka. Itu artinya, mereka bukan hanya belajar tentang sudut, tetapi juga
tentang kerja sama, ketekunan, dan tanggung jawab. Saya sangat bangga melihat
hasil kerja mereka yang penuh warna dan makna.” Tutupnya.
Kepala MIN 3 Asahan, Tohiruddin Hasibuan, S.Pd., M.M., memberikan tanggapan positif terhadap inovasi pembelajaran yang dilakukan oleh Jefriadi Samosir. Ia menilai langkah tersebut sebagai bentuk kreativitas guru dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di madrasah. Tohiruddin menganggap bahwa penerapan metode PjBL merupakan contoh nyata penerapan kurikulum berbasis proyek yang menekankan kolaborasi, kreativitas, dan pemecahan masalah.
“Saya sangat mengapresiasi langkah yang dilakukan oleh Pak
Jefriadi dalam menggunakan metode Project Based Learning. Kegiatan seperti ini
membuat siswa belajar dengan cara yang menyenangkan dan bermakna. Mereka tidak
hanya memahami konsep, tetapi juga mempraktikkan dan merasakannya langsung.
Saya berharap guru-guru lain di MIN 3 Asahan dapat mencontoh langkah inovatif
ini demi kemajuan pembelajaran di madrasah kita.” Pesan Tohiruddin dengan penuh
harap.
Tohiruddin melanjutkan, bahwa kegiatan pembelajaran dengan metode PjBL yang dilaksanakan oleh Jefriadi Samosir menjadi salah satu contoh nyata bahwa inovasi dalam dunia pendidikan tidak harus selalu mahal atau rumit. Dengan ide sederhana, semangat, dan kreativitas, pembelajaran bisa menjadi lebih hidup, menarik, dan membekas dalam ingatan siswa. (Wh)
Pulau Rakyat (Humas) – Kepala Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 3 Asahan, Ummiati Nasution, S.Pd.I., memimpin langsung jalannya Rapat Koordi...
Pulau Rakyat (Humas) – Kepala Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 3 Asahan, Ummiati Nasution, menghadiri kegiatan supervisi manajerial yang dip...
Pulau Rakyat (Humas) – Mengawali hari kerja pertama setelah libur panjang Hari Raya Idul Fitri 1447 H, Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 3 A...