Loading...

  • Kamis, 30 April 2026

Penyuluh Katolik: Toleransi Harga Mati

Penyuluh sedang berdiskusi

Asahan (Humas BimKat). Sejak awal, Indonesia sangat menjunjung toleransi. Tolerasi merupakan sikap saling menghargai, menghormati, dan menerima perbedaan pendapat, keyakinan, atau kepercayaan. Sikap toleransi tersebut ingin dikembangkan dalam diri remaja sebagai generasi akan datang.

 

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kab. Asahan, Alb Irawan Dwiatmaja, M.Fil. memberi penjelasan tentang toleransi kepada Remaja Katolik di UPTD SMP Negeri 3 Desa Sei Lama Kec. Simpang Empat pada Rabu, 12 Maret 2025. Perikop Kitab Suci yang menjadi bahan pendalaman yaitu Lukas 10:25-37. Wawan mengatakan, “Para saudara yang terkasih, kita akan mendalami pertemuan hari ini dari perikop Kitab Suci yang berbicara tentang Orang Samaria yang murah hati.”

 

Orang Farisi bertanya kepada Yesus tentang bagaimana memperoleh hidup yang kekal. Yesus tidak menjawabnya secara langsung tetapi membalikkan pertanyaan tersebut kepada mereka. Mereka menjawabnya dengan menyebutkan hukum Taurat. Lalu, orang Farisi Kembali bertanya siapakah sesama manusia. Yesus tidak menjawab langsung pertanyaan tersebut tetapi memberi sebuah perumpamaan.

 

Yesus menjawab pertanyaan dengan sebuah perumpamaan karena Yesus tahu bahwa orang Farisi itu cerdas sehingga Ia ingin mereka mencerna dan berpikir. Perumpamaan merupakan penyampaian pesan dengan menggunakan bahasa imajinasi, simbolis, perbandingan supaya makna dibalik perumpamaan tersebut dapat dimengerti. Untuk menjawab pertanyaan orang Farisi, Yesus menggunakan perumpamaan orang Samaria yang murah hati.

 

Orang Samaria tidak asli lagi dari suku/bangsa Yahudi. Mereka sudah banyak yang menikah dengan orang bukan Yahudi. Mereka orang luar yang tidak dianggap oleh orang Yahudi. Namun, orang Samaria yang menolong orang menglami musibah dalam perumpamaan. Imam dan orang Lewi lewat tanpa memperdulikan orang yang tergeletak di jalan. Orang Yahudi tidak mau bergaul dengan orang yang bukan Yahudi sehingga mereka selalu menghindar dengan mereka. Sedangkan orang Samaria mau menolong orang tanpa tahu status yang ditolong.

“Dengan kisah orang Samaria yang murah hati, kita dapat mengambil pesan bahwa kita harus bergaul dengan siapa pun tanpa membedakan status, agama, budaya, suku. Kita harus menolong orang yang membutuhkan tanpa pamrih, dan yang terakhir, kita dapat belajar toleransi dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari,” tutup Wawan dalam penjelasannya. (AW)

Tentang Penulis
Penulis di Kemenag Asahan Sejak 15 May 2024
Lihat Semua Post