Bimas Katolik Kemenag Asahan Laksanakan Misa Paskah Bersama di Lapas: Allah yang Berbelas Kasih
Suasana penuh haru dan sukacita mewarnai pelaksanaan Misa Paskah yang diselenggarakan oleh Bimas Katolik Kantor Kementerian Agama Kab. Asaha...
Loading...
Asahan (Humas BimKat). Sejak
awal, Indonesia sangat menjunjung toleransi. Tolerasi merupakan sikap saling
menghargai, menghormati, dan menerima perbedaan pendapat, keyakinan, atau
kepercayaan. Sikap toleransi tersebut ingin dikembangkan dalam diri remaja
sebagai generasi akan datang.
Penyuluh Agama Katolik
Kantor Kementerian Agama Kab. Asahan, Alb Irawan Dwiatmaja, M.Fil. memberi
penjelasan tentang toleransi kepada Remaja Katolik di UPTD SMP Negeri 3 Desa Sei Lama
Kec. Simpang Empat pada Rabu, 12 Maret 2025. Perikop Kitab Suci yang menjadi
bahan pendalaman yaitu Lukas 10:25-37. Wawan mengatakan, “Para saudara yang
terkasih, kita akan mendalami pertemuan hari ini dari perikop Kitab Suci yang berbicara tentang Orang Samaria yang murah hati.”
Orang Farisi bertanya
kepada Yesus tentang bagaimana memperoleh hidup yang kekal. Yesus tidak
menjawabnya secara langsung tetapi membalikkan pertanyaan tersebut kepada
mereka. Mereka menjawabnya dengan menyebutkan hukum Taurat. Lalu, orang Farisi
Kembali bertanya siapakah sesama manusia. Yesus tidak menjawab langsung
pertanyaan tersebut tetapi memberi sebuah perumpamaan.
Yesus menjawab pertanyaan dengan sebuah
perumpamaan karena Yesus tahu bahwa orang Farisi itu cerdas sehingga Ia ingin
mereka mencerna dan berpikir. Perumpamaan merupakan penyampaian pesan dengan
menggunakan bahasa imajinasi, simbolis, perbandingan supaya makna dibalik perumpamaan
tersebut dapat dimengerti. Untuk menjawab pertanyaan orang Farisi, Yesus menggunakan perumpamaan orang Samaria yang
murah hati.
Orang Samaria tidak asli lagi dari suku/bangsa Yahudi. Mereka sudah banyak yang menikah dengan orang bukan Yahudi. Mereka orang luar yang tidak dianggap oleh orang Yahudi. Namun, orang Samaria yang menolong orang menglami musibah dalam perumpamaan. Imam dan orang Lewi lewat tanpa memperdulikan orang yang tergeletak di jalan. Orang Yahudi tidak mau bergaul dengan orang yang bukan Yahudi sehingga mereka selalu menghindar dengan mereka. Sedangkan orang Samaria mau menolong orang tanpa tahu status yang ditolong.
“Dengan kisah orang
Samaria yang murah hati, kita dapat mengambil pesan bahwa kita harus bergaul
dengan siapa pun tanpa membedakan status, agama, budaya, suku. Kita harus
menolong orang yang membutuhkan tanpa pamrih, dan yang terakhir, kita dapat belajar toleransi dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari,” tutup Wawan dalam penjelasannya.
(AW)
Suasana penuh haru dan sukacita mewarnai pelaksanaan Misa Paskah yang diselenggarakan oleh Bimas Katolik Kantor Kementerian Agama Kab. Asaha...
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Penyelenggara Bimas Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Asahan, Alb Irawan Dwiatmaja bersama Penyuluh A...
Asahan (Humas BimKat). Pelaksana Tugas (Plt.) Penyelenggara Bimas Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Asahan, Alb Irawan Dwiatmaja be...