Asahan (Penyuluh Katolik). Penyuluh
Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kab. Asahan, Alb Irawan Dwiatmaja,
M.Fil. mengadakan penyuluhan untuk kelompok binaan yaitu Bina Iman Remaja
Katolik UPTD SMP Negeri 2 Pulau Rakyat Desa Padang Mahondang pada Jumat, 22 November
2024 di lapangan. Tema penyuluhan adalah praktik Simonisme. Apa itu praktik Simonisme?
Penyuluh yang akrab dipanggil Wawan
menjelaskan, “Praktik Simonisme adalah sebuah ajaran heretik yang muncul pada
masa para rasul, didirikan oleh Simon Magis dan dibantu oleh Helena. Simon yang
berasal dari Gitton, Samaria, sebelumnya telah terlibat dalam praktik magis.
Ketika mewartakan kristianitas (Katolik) ke Samaria, Filipus memperoleh banyak
pengikut, termasuk Simon, yang kemudian meminta kuasa mukjizat dari Petrus.
Namun, Petrus menolaknya, menyatakan bahwa karunia ilahi tidak dapat dibeli
atau dijual.”
“Sikap Simon yang ingin membeli
kuasa tersebut menciptakan Simonisme, yang menyalahgunakan hal-hal spiritual
atau Ilahi dengan motif uang. Simon menganggap dirinya sebagai tuhan yang
mahattinggi dan berinkarnasi di Samaria, serta meyakini bahwa tubuh manusia
adalah penjara bagi yang Ilahi, dengan tujuannya adalah membebaskan yang Ilahi dari
penjaranya,” lanjut Wawan. Simonisme terus berkembang seiring dengan perkembangan
Kristen, dengan para misionaris selalu mengingatkan akan bahaya ajaran Simon
Magis. Praktik Simionisme tetap ada dalam Sejarah Gereja, berubah bentuk dari
satu era ke era berikutnya, dan bahkan masih ada hingga saat ini.
Wawan menutup pertemuan dengan
mengatakan bahwa dalam Simonisme, konsep bahwa Simon adalah penebus yang berinkarnasi
untuk membebaskan yang Ilahi dan bantuan dayangnya Helena menjadi esensial
dalam ajarannya. Meskipun diperingatkan dan dikecam oleh gereja, pengaruh
Simonisme masih terasa hingga zaman sekarang. (AW)