Loading...

  • Senin, 20 April 2026

Penyuluh Katolik: Berbela Rasa dan Rela Berbagi

Penyuluh menjadi pemandu

Asahan (Humas BimKat). Berbela rasa dan rela berbagi adalah dua konsep yang saling melengkapi dalam kehidupan umat Katolik. Berbela rasa terdiri dari kata bela yang berarti melindungi atau menolong, dan rasa yang berarti perasaan, kepekaan, atau sensitivitas. Bela rasa mengajak kita untuk merasakan dan memahami penderitaan orang lain. Rela berbagi adalah sikap kesediaan untuk memberikan sebagian dari apa yang kita miliki kepada orang lain dengan sukarela dan tanpa pamrih.

 

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kab. Asahan, Alb Irawan Dwiatmaja, M.Fil. memandu ibadat pendalaman aksi puasa Pembangunan (APP) di lingkungan St. Yosef Lestari Selatan Gereja Katolik Paroki Sakramen Mahakudus Kisaran pada Kamis, 13 Maret 2025. Pertemuan diawali dengan membahas poster dan dilanjutkan dengan pendalaman dari Lukas 10:25-37.

 

Wawan menjelaskan, “Dalam poster tampak seorang ibu memakai Rosario memberi sebungkus makanan kepada pengemis dengan menyentuh tangannya. Sedangkan dua orang di belakang mereka hanya melewati pengemis tanpa berbuat apa-apa. Sebagai umat beriman, kita tidak bisa menutup mata terhadap ketidakadilan dan penderitaan yang terjadi di sekitar kita. Kita dipanggil untuk berbela rasa dan rela berbagi bagi mereka yang membutuhkan dalam segala situasinya.”

 

Teks Kitab Suci Lukas 10:25-37 yang berisi perumpamaan tentang Orang Samaria yang murah hati menegaskan pentingnya kasih yang melampaui batas-batas sosial, agama, dan budaya. Ketika seorang ahli Taurat bertanya kepada Yesus tentang cara memperoleh hidup yang kekal, Yesus mengarahlan diskusi kepada inti hukum Taurat: mengasihi Allah dengan segenap hati dan mengasihi sesama seperti diri sendiri. 

“Perumpamaan ini menekankan bahwa kasih kepada sesama tidak terbatas pada kelompok atau golongan tertentu. Yesus menggunakan tokoh orang Samaria yang pada itu dianggap musuh oleh orang Yahudi untuk menunjukkan bahwa sesama kita adalah siapa saja yang membutuhkan pertolongan tanpa memandang latar belakang mereka. Semoga kita siap menolong siapa pun tanpa pamrih, bahkan jika mereka berbeda atau dianggap asing,” tutup Wawan dalam penjelasannya. (AW)

Tentang Penulis
Penulis di Kemenag Asahan Sejak 15 May 2024
Lihat Semua Post