Asahan (Humas BimKat). Gereja Katolik memiliki dua (2) jenis pilihan dalam hidup yaitu tidak hidup berkeluarga/menikah dan hidup selibat. Pada umumnya, hidup berkeluarga merupakan cara hidup yang banyak dipilih oleh banyak orang. Sedangkan hidup selibat merupakan panggilan khusus kepada orang-orang yang memilih untuk memberikan hidup dan dirinya secara total kepada Tuhan untuk menjadi partner-Nya dalam mewartakan Kerajaan Allah. Panggilan khusus untuk hidup selibat sebagai imam dalam Gereja Katolik dimeteraikan dalam Sakramen Imamat.
Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kab. Asahan, Alb Irawan Dwiatmaja melakukan penyuluhan kepada remaja Katolik di UPTD SMP Negeri 2 Pulau Rakyat, Desa Padang Mahondang pada Jumat, 31 Juli 2025. Para remaja mengikuti penyuluhan dengan penuh semangat untuk menambah pemahaman tentang iman Katolik. Tema penyuluhan adalah Sakramen Imamat dalam Gereja Katolik.
Wawan mengatakan bahwa setiap orang berhak memilih hidupnya: menikah atau selibat. Pilihan tersebut memiliki konsenkuensi untuk setiap pribadi sehingga harus memiliki gambaran tentangnya. “Sebelumnya kita sudah membahas tentang Sakramen Perkawinan yang merupakan cara hidup yang banyak dipilih oleh orang. Sekarang, kita akan membahas Sakramen Imamat yang konsekuensi menuntut seseorang untuk hidup selibat. Panggilan hidup selibat merupakan panggilan hidup yang khas. Mereka memberikan hidup dan dirinya secara total kepada Tuhan untuk menjadi partner-Nya dalam mewartakan kerajaan Allah. Panggilan khusus untuk hidup selibat sebagai imam dalam Gereja Katolik dimeteraikan dalam Sakramen Imamat,” jelas Wawan.
Wawan menegaskan bahwa tidak mudah untuk memilih hidup selibat. Setiap orang harus benar-benar mengenal dirinya sebelum memutuskan untuk hidup selibat. Proses agar dapat hidup selibat tidak mudah karena harus melewati tahapan-tahapan yang panjang. Tahapan-tahapan tersebut harus dilalui demi proses pemurnian diri dan motivasi sebab selamanya akan hidup secara total untuk pelayanan Tuhan. “Ketika memilih untuk hidup selibat ya harus sungguh-sungguh murni tanpa ada maksud apa pun. Tak boleh main-main dan bahkan mendua,” tegas Wawan.
"Hidup selibat dan hidup berkeluarga sama-sama baik. Tidak lebih kudus dan baik yang hidup selibat begitu juga sebaliknya. Jadi, kedua jenis hidup itu merupakan panggilan Allah. Allah memanggil manusia berdasarkan kehendak-Nya. Semoga kalian semakin memahami cara hidup ini yang merupakan Sakramen Perkawian dan Sakramen Imamat," tutup Wawan dalam penyuluhannya. (AW)