Loading...

  • Selasa, 25 Agustus 2026

Penyuluh Agama Katolik Kemenag Kab. Asahan Mengikuti Pelatihan Public Speaking

Peserta dengan panitia dan widyaiswara

Asahan (Humas BimKat). Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kab. Asahan, Alb Irawan Dwiatmaja mengikuti Pelatihan Public Speaking selama 6 hari, 16-21 Juni 2025 di Balai Diklat Keagamaan Medan. Pelatihan ini diikuti oleh penyuluh agama ASN sebanyak 30 orang dari berbagai kabupaten/kota di lingkungan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sumatera Utara.

 

Kepala Balai Diklat Keagamaan (BDK) Medan, Drs. Muhammad Halomoan, M.Pd. dalam pembukaan mengatakan bahwa pelatihan ini diadakan untuk meningkatkan sumber daya manusia kemenag. “Idealnya setiap ASN termasuk penyuluh agama kemenag itu mendapatkan 4 kali pelatihan untuk meningkatkan SDM kemenag. Pelatihan public speaking ingin menguatkan para penyuluh untuk dapat berkomunikasi di depan umum. Para penyuluh agama memiliki keterampilan untuk menyampaikan sebuah informasi kepada orang lain dengan tujuan dan cara-cara tertentu”, jelas Halomoan.

 

Narasumber pelatihan ini berasal dari widyaiswara dari BDK Medan dan pejabat eselon di lingkungan Kanwil Kementerian Agama Provinsi Sumatera Utara. “Peran komunikasi dalam dunia komunikasi terdiri dari komunikasi verbal dan non verbal. Komunikasi verbal seperti kata-kata, tulisan, foto, lukisan dan komunikasi non verbal seperti mimik wajah, bahasa tubuh, tindakan, paralinguistik, penampilan, aroma, dll. Peran dan fungsi komunikasi verbal dan non verbal yaitu untuk membangun kesamaan makna, untuk mempertegas pesan yang akan disampaikan, untuk membagun keyakinan pendengar, dan representasi dan kredibilitas diri pembicara”, ucap Jayitno sebagai widyaiswara.

 

“Dalam komunikasi terdapat beberapa bentuk public speaking yaitu pidato, moderator, memimpin rapat, mengajar, dan pembawa acara (mc). Bentuk ini harus diketahui para penyuluh agama supaya dapat menempatkan posisi ketika ditugaskan. Tidak semua hal sama sehingga dengan melihat bentuk-bentuk ini para penyuluh dapat menerapkan ketika diberi amanah entah itu menjadi pembawa acara atau menjadi moderator dan sebagainya”, jelas Nurhamidah.

 

“Dalam ilmu komunikasi, kita harus memahami metode public speaking yakni metode impromptu, manuscript, memoriter, extemporer. Dengan mengetahui metode-metode tersebut, para penyuluh dapat menyampaikan informasi dan menempatkan diri sesuai dengan kapasitasnya ketika ditunjuk”, terang Nurhamidah.


Produk akhir dari pelatihan ini adalah penampilan podcast oleh para peserta pelatihan yang difasilitasi oleh BDK Medan. “Saya mengucapkan terimakasih kepada BDK Medan yang memberi pelatihan ini sehingga saya dapat menerapkan dalam tugas saya sebagai penyuluh agama. Selama ini saya menganggap bahwa semua itu sama tetapi setelah mengikuti pelatihan ini, ada banyak hal-hal yang harus diperhatikan dalam berkomunikasi di ruang publik, ungkap Wawan. (AW) 

Tentang Penulis
Penulis di Kemenag Asahan Sejak 15 May 2024
Lihat Semua Post