Loading...

  • Jumat, 15 Mei 2026

Kemenag Asahan Ajak Kemenag Binjai Wisata Religi ke Masjid MTQ 46 Diyakini Sebagai MTQ Pertama di Dunia

foto

Kisaran (Humas). Kakankemenag (Kepala Kantor Kementerian Agama) Kabupaten Asahan H. Abdul Manan, MA. Ajak Kemenag Binjai Wisata Religi Kunjungi Masjid MTQ 46 Diyakini Sebagai MTQ Pertama di Dunia, Sabtu (23/08/2025).

Kakankemenag Asahan mengajak rombongan kunjungan muhibbah Kemenag Binjai untuk wisata religi ke Masjid MTQ 1946 yang sering disebut oleh warga Masjid MTQ 46 yang berdiri tegak di Dusun II Desa Pondok Bungur Kecamatan Rawang Panca Arga Kabupaten Asahan yang diyakini sebagai MTQ pertama di Indonesia bahka kerap disebut pertama di dunia.

Sejarah singkat sebagaimana dikutip dari beberapa sumber bahwa tokoh penggerak M. Ali Umar, ulama setempat dan pimpinan madrasah di Pondok Bungur. Sejak 1938 beliau sudah menggagas perlombaan baca Al-Qur’an, namun sempat ditentang dan madrasahnya ikut tertekan sehingga kegiatan belum berlanjut.

Tahun 1940 M. Ali Umar mendirikan Persatuan Agama Islam (PAI). Seusai menghadiri konferensi Masyumi di Medan pada 1946, ia kembali mendorong gagasan lomba baca Al-Qur’an untuk mengisi semangat kemerdekaan.

Peristiwa puncak terjadi 12 Februari 1946 / 11 Rabiul Awal 1365 H, diselenggarakan lomba membaca Al-Qur’an (cikal-bakal MTQ) di Pondok Bungur. Peserta datang bukan hanya dari Asahan, melainkan juga dari Langkat, Deli Serdang, dan daerah sekitar. Inilah yang kemudian diyakini sebagai MTQ pertama di Indonesia (bahkan kerap disebut pertama di dunia).

Lokasi penyelenggaraan 1946: di madrasah yang dipimpin M. Ali Umar (bukan di masjid yang sekarang), dengan 20 peserta dari 10 kampung. Pemenang: Nurdin (putra) dan Safira (putri).

Penelitian rujukan: peristiwa 1946 ini terdokumentasi antara lain dalam buku “Peristiwa dan Sejarah Kelahiran MTQ Pertama” (1989) oleh Nahar Alang Abd. Gani (alumni Al-Azhar Kairo) yang diterbitkan Yayasan MTQ Pertama Indonesia.

Adapun lahirnya Masjid MTQ 1946 dimulai pendirian fisik masjid, bangunan masjid di Pondok Bungur dibangun sekitar tahun 1970-an dengan nama awal Masjid Taqwa. Namun seiring berjalan waktu perubahan nama pada awal 1990-an, sebagai penanda resmi atas sejarah 1946 (gagasan dari para tokoh termasuk Nurdin—juara 1946), nama masjid diubah menjadi “Masjid MTQ 1946” sehingga fungsinya sekaligus menjadi monumen peringatan kelahiran MTQ.

Ciri bangunan masjid bergaya sederhana khas perdesaan, berkubah emas, dilengkapi menara dan gapura bertuliskan “Masjid MTQ 1946”—elemen yang kini menjadi spot ikonik bagi peziarah dan wisatawan religi.

Pemerintah Kabupaten Asahan memasukkan Masjid MTQ 1946 sebagai destinasi “Wisata Religi” berstatus masjid bersejarah; artikel resmi pemkab menegaskan tanggal peristiwa 12 Februari 1946 dan peran M. Ali Umar.

Kemenag Sumatera Utara menyatakan dukungan agar Masjid 1946 diupayakan menjadi Cagar Budaya karena nilai sejarahnya sebagai jejak lahirnya MTQ.

Media nasional (Detik/DetikTravel, Metro Daily/Jawapos) juga menarasikan masjid ini sebagai monumen sejarah MTQ pertama dan mengutip kesaksian pengurus BKM setempat.

Liputan RRI (2025) turut mengangkat masjid ini sebagai “Monumen Awal MTQ di Indonesia.”

Sebagai catatan tambahan beberapa sumber menulis “lokasi lomba MTQ pertama di masjid”, namun kesaksian pengurus BKM yang dikutip Detik menyebut lomba berlangsung di madrasah M. Ali Umar di kampung yang sama; masjid sekarang berfungsi sebagai monumen penanda. Ini penting untuk akurasi narasi sejarah lokal.

Kunjungan ini diterima dengan baik oleh Pengurus BKM Masjid 46 dan mengucapkan terimakasih atas kunjungannya serta berharap agar peristiwa bersejarah ini bisa dipublikasikan sehingga peninggalan bersejarah tidak hilang oleh waktu.(FR)

Tentang Penulis
Penulis di Kemenag Asahan Sejak 05 May 2024
Lihat Semua Post