Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kab. Asahan
Dalam Gereja Katolik, bulan Oktober
sebagai bulan Rosario karena perayaan liturgi Bunda Maria Rosario dirayakan
pada tanggal 7 Oktober. Perayaan ini ditetapkan oleh Paus St. Pius V pada tahun
1571 untuk memperingati kemenangan umat Kristen dalam Pertempuran Lepanto pada
tanggal 7 Oktober tahun itu. Gereja mengaitkan kemenangan itu dengan
perantaraan Bunda Maria, yang dimohon melalui doa Rosario.
Kenapa orang Katolik berdoa
melalui perantaraan Bunda Maria? Pertanyaan ini mungkin tampak sulit dijawab,
tetapi jawabannya sebenarnya cukup sederhana: karena Allah menghendakinya. Kita
mungkin bertanya mengapa Allah ingin kita memiliki hubungan dengan ibu-Nya -bukankah
itu akan mengalihkan perhatian kita dari-Nya? Bukankah itu tampak sangat
kontradiktif?
Pengalaman kita menjawabnya. Mari
kita ambil contoh, seorang pemuda yang bertemu dengan orang tua pacarnya. Saat
ia mengenal mereka, ia menyadari bahwa mereka adalah keluarga yang baik, senang
bersama mereka dan juga mulai mencintai mereka. Apakah itu berarti bahwa dengan
semakin mencintai mereka ia akan semakin mencintai pacarnya? Kita bahkan dapat
mengatakan bahwa yang sebaliknya mungkin terjadi: cintanya kepada keluarga
pacarnya dapat membantunya untuk lebih mengenal dan mencintai pacarnya.
Hal serupa terjadi dalam hubungan
kita dengan Maria. Ia bukan untuk mengalihkan perhatian kita dari Allah, tetapi
untuk menuntun kita kepada-Nya. Surat Yakobus dengan jelas menyerukan kita
untuk melakukannya (Yak 5:16). Ketika kita berdoa bagi saudara atau saudari di
dalam Kristus, kita menjadi “perantara”, seperti Musa, yang memohon kepada Allah
untuk orang lain. Tidak ada yang salah dengan menjadi “perantara” dengan cara
ini.
Namun, timbul pertanyaan dalam 1
Timotius 2:5 yang mengatakan bahwa Yesus adalah satu-satunya Mediator antara Allah
dan manusia. Allah memang bertindak melalui perantara, tetapi hanya Yesus yang
menjadi Mediator dengan huruf kapital “M”. Artinya, hanya Dia yang mampu
menyatukan manusia dengan Allah, hanya Dia yang bisa menjadi jembatan yang
mengalahkan dosa dan membawa kita kepada kehidupan baru. Tidak ada orang yang
menjadi mediator seperti Yesus. Kita memiliki “Mediator,” yaitu Yesus, dan
“mediator (m huruf kecil)” yaitu kita orang Katolik. Yesus ingin kita
berpartisipasi dalam perantaraan-Nya, tetapi tidak berarti kita
menggantikan-Nya atau bersaing dengan-Nya. Mediasi inilah yang memungkinkan
kita untuk mengundang orang lain untuk mengenal-Nya. Dia menghendaki rencana
keselamatan-Nya terlaksana dengan cara ini. Ketika kita mengatakan kita atau
Maria adalah “mediator” kita jelas tidak mengatakan bahwa kita adalah
“Mediator” seperti Kristus. Kita hanya mengatakan bahwa Dia memilih untuk
membiarkan kita mengambil bagian dalam misi-Nya dengan menjangkau orang lain
melalui kita.
Di sinilah Bunda Maria berperan.
Ia menempati tempat khusus di antara kita, yang berpartisipasi dalam
perantaraan Yesus, karena Allah memilih untuk datang kepada kita melalui
dirinya dan memberikannya kepada kita sebagai Ibu. Misinya adalah senantiasa
menuntun kita kepada-Nya: “Apa pun yang dikatakan-Nya kepadamu, buatlah
demikian (Yoh 2:5)”. Ia, seperti kita, menjadi perantara di bawah perantaraan
Kristus. Ketika kita mengatakan bahwa ia menjadi perantara bagi kita, kita
tidak mengatakan bahwa kita melupakan Allah. Itu hanya berarti kita berpaling
kepadanya untuk didoakan, sesuatu yang dilakukan semua orang Kristen ketika
mereka meminta doa dari saudara-saudari mereka.
Ketika umat Katolik “berdoa”
melalui perantaraan Bunda Maria, ia tidak berdoa dengan cara yang sama
seperti ia berdoa kepada Allah. Kita meminta perantaraannya, seperti kita
meminta doa dari saudara-saudari kita. Itulah yang kita minta darinya dalam doa
Salam Maria. Pertama, kita memberi salam kepadanya dengan kata-kata Kitab Suci
yang diucapkan kepadanya oleh malaikat dan Elisabet: “Salam [Maria], penuh
rahmat; Tuhan menyertai engkau” (Luk 1:28). “Terberkatilah engkau di antara
semua wanita dan terberkatilah buah rahimmu [Yesus]” (Luk 1:41-42). Dan kita
akhiri dengan memohon doanya: “Santa Maria, Bunda Allah, doakanlah kami yang
berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati.” Allah telah memberi kita karunia
yang indah berupa seorang Bunda rohani untuk membantu kita menjadi satu
dengan-Nya.